Layanan Bimbingan Konseling Individu terhadap wanita menopause

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada tahun 2003 terpancang momentum yang amat signifikan dalam pengembangan profesi bimbingan dan konseling, yaitu pertama diberlakukannya Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang di dalamnya disebutkan bahwa: Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Jika diperhatikan dan cermati peran dan kedudukan profesi konseling sudah semakin kokoh dan mantap sehingga profesi ini harus betul-betul dapat dilaksanakan sesuai dengan tuntutan dan amanat dari undang-undang sitem pendidikan nasional yang tertuang pada pasal I ayat 6 seperti yang tertera di atas.
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan dan pengajaran,dan /latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Sementara tujuan pendidikan pada dasarnya adalah untuk membantu pencapaian perkembangan yang optimal terhadap setiap individu yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya dan menghasilkan manusia yang berkualitas. Hal ini sesuai sebagaimana yang tertera dalam Undang-Undang Nomor : 20 Tahun 2003 Pasal 3 :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Proses pendidikan yang di selenggarakan dapat bersifat formal, informal dan non formal, akan tetapi lazimnya dan kebanyakan penyelenggaraan pendidikan bersifat formal . Sekolah sebagai salah satu lembaga yang menyelenggarakan pendidikkan formal mempunyai peranan yang sangat penting dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia indonesia seutuhnya.
Sejalan dengan kondisi di atas, maka ruang lingkup proses pendidikan di Sekolah sekurang-kurangnya akan meliputi tiga bidang kegiatan, yaitu :
Bidang pengajaran dan Kurikulum
Bidang adiministrasi
Bidang pembinaan pribadi murid.
Suatu kegiatan pendidikan yang baik dan ideal hendaknya mencakup ketiga bidang kegiatan tersebut. Pendidikan yang hanya menjalankan program kegiatan pengajaran dan administrasi saja tanpa memeperhatikan murid-murid secara pribadi, mungkin hanya akan menghasilkan individu yang cakap dan bercita-cita tinggi. Maka sebagai akibatnya mereka kurang mampu dalam memahami kemampuan atau potensi dirinya, dan tak sanggup untuk merealisasikan dirinya di masyarakat.
Jika diperhatikan demikian maka tidak heran kalau anak-anak banyak mengalami kesulitan dan kegagalan di masyarakat meskipun angka-angka rapor atau nilai ujiannya baik. Untuk menghindari timbulnya hal-hal semacam itu, maka dalam keseluruhan proses pendidikan di Sekolah akan terasa sekali perlu adanya bidang tersendiri yang menggarap masalah pembinaan pribadi murid. Dsinilah terasa perlunya program bimbingan dan konseling yang akan memusatkan diri dalam membantu murid-murid secara pribadi, agar mereka dapat berhasil dalam program pendidikannya.
Dengan melalui program bimbingan dan konseling yang baik, maka setiap murid akan mendapat kesempatan untuk mengembangkan setiap kecakapan dan kemampuannya semaksimal mungkin. Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa bimbingan dan konseling dapa membantu memepertemukan antara kemampuan inidividu dengan cita-citanya dan juga dengan situasi masyarakat.
Bertitik tolak dari fenomena-fenomena di atas terlihat bahwa bimbingan dan konseling di Sekolah sangat dibutuhkan oleh siswa dalam mengatasi masalah pribadi, belajar, sosial maupun karirnya melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku. Keberhasilan kegiatan bimbingan dan konseling tidak terlepas dari tercapainya tujuan umum bimbingan dan konseling itu sendiri yaitu “untuk membantu individu mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan pertumbuhan yang dimilikinya ( seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya ) berbagai latar belakang yang ada ( seperti latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi ), serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungan.”
Agar tujuan bimbingan dan konseling dapat tercapai dengan efektif maka pelaksanaan bimbingan dan konseling perlu disusun dan diprogramkan dengan matang dan dipersiapkan secara baik dan benar. Layanan akan terselenggara dengan baik apabila dituangkan kedalam program yang mengacu kepada pola 17. Pola umum pelaksanaan bimbingan dan konseling yang dikemas dalam “BK Pola 17” dan sekarang telah berkembang menjadi “BK Pola 17 Plus”. Untuk memepermudah dalam memahami bagaimana gambaran BK pola 17 tersebut penulis mencoba menggambarkannya dalam bentuk dan dalam format yang sederhana dengan harapan kepada semua pihak yang berminat mendalami mengenai BK pola 17 dapat memahaminya secara mudah dan sedarhana. Selanjutnya, pola umum tersebut tergambar dalam diagram sebagai berikut:

Pola Umum “BK Pola 17”

Diagram 1
Pola Umum Bimbingan dan Konseling di Sekolah.

Dari diagram tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa terdapat enam bidang bimbingan (yaitu bidang bimbingan pribadi, sosial, belajar, karier, bimbingan kehidupan berkeluarga, bimbingan kehidupan beragama); sembilan jenis layanan (yaitu layanan orientasi, informasi, penempatan/penyaluran, konseling individual, bimbingan kelompok, konseling indivual,layanan mediasi, layanan konsultasi ); enam kegiatan pendukung (yaitu instrumentasi data, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah, alih tangan kasus dan studi kepustakaan ). “BK Pola 17 Plus” tersebut di atas selanjutnya dipakai sebagai pedoman guru pembimbing dalam melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah. Dengan pedoman “BK Pola 17 Plus”, guru pembimbing diharapkan dapat merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi serta menindaklanjuti secara cermat dan tepat sesuai dengan kebutuhan siswa serta tujuan bimbingan dan konseling di sekolah pada umumnya.
Berdasarkan pengamatan dan survey awal yang penulis lakukan dapat dipahami bahwa pelaksanaan layanan konseling individual terhadap wanita manapouse di Desa Perbo secara umum belum terlaksana. Akan tetapi apakah pelaksanaan layanan konseling indivual tersebut sudah terlaksana dengan baik untuk membantu mengentaskan berbagai masalah.
Mengingat program layanan bimbingan dan konseling sebagai unsur utama bagi kesuksesan layanan bimbingan dan konseling, maka penulis tertarik untuk mengungkap lebih jauh serta mendalam mengenai Layanan konseling indivual Terhadap Wanita menopause di Desa Perbo Kecamatan Curup Utara.
Dari pengamatan awal penulis tertarik untuk mengetahui secara mendalam apa dan bagaimana Layanan konseling indivual Terhadap Wanita menopause di Desa Perbo Kecamatan Curup Utara.
B. Rumusan Masalah
Dari judul penelitian yang penulis kemukakan di atas, terdapat beberapa permasalahan yang penulis rumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pemahaman para ibu di Desa Perbo terhadap menopause?
2. Apa saja permasalahan psikologis yang dialami oleh ibu-ibu yang mengalami menopause di Desa Perbo?
3. Bagaimana hasil konseling Individual dalam meningkatkan kepercayaan ibu-ibu yang mengalami menopause di Desa Perbo?
C. Batasan Masalah

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Perbo Kecamatan Curup Utara. Mengingat keterbatasan kemampuan penulis, maka penulis membatasi penelitian ini pada pengungkapan” pelaksanaan konseling individual terhadap wanita yang menopause di Desa Perbo Kecamatan Curup Utara.

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah secara umum adalah untuk memperoleh gambaran pelaksanaan konseling individual terhadap ibu-ibu yang sudah menopause di Desa Perbo Kecamatan Curup Utara. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memperoleh pemahaman tentang beberapa hal sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pemahaman para ibu-ibu di Desa Perbo terhadap menopause.
2 Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan konseling individual terhadap ibu-ibu yang sudah menopause.
3 Untuk Mengetahui kendala yang dialami dalam pelaksanaan konseling indivual terhadap ibu-ibu yang mengalami menopause.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna tentang pentingnya pemahaman terhadap berbagai permasalahan termasuk masalah ibu-ibu yang sedang mengalami menopause.
2. Secara Praktis
a) Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi bagi semua pihak yang terkait dengan pelaksanaan bimbingan dan konseling.
b) Hasil penelitian ini juga diharapkan menjadi input dan konstribusi bagi semua pihak terutama yang berkepentingan dalam melaksanakan berbagai jasa layanan bimbingan dan konseling.
F. Definisi Operasional Judul.
Agar tidak terjadi salah penafsiran dan kesalahpahaman, maka di sini akan diberikan pengertian yang jelas tentang judul di atas dengan arti atau pengertian, baik masing-masing kata maupun istilah agar mudah dipahami.
1. Konseling perorangan merupakan layanan konseling yang diselenggarakan oleh seorang konselor terhadap seorang klien dalam rangka pengentasan masalah pribadi klien.
2. Menopause adalah proses fisiologis normal yang akan dialami setiap wanita. Dalam masa ini terjadi perubahan pada organ tubuh dan kejiwaan (psikis). Secara fisik sistem organ (alat) berangsur-angsur mengalami kemunduran (degradasi) secara struktural dan fungsional.

G. Sistematik Pembahasan
Bab I : Merupakan bab pendahuluan yang terdidri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, definisi operasional, sistematika penulisan.
Bab II : Merupakan landasan teoritis yang terdiri dari pengertian konseling perorangan, langkah-langkah konseling perorangan, pengertian menopause, penyebab menopause dan hal-hal yang berhubungan dengan menopause.
Bab III : Merupakan Metodologi Penelitian terdiri dari Jenis penelitian, Populasi dan Sampel Penelitian, Jenis dan Sumber Data, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisa Data.
Bab IV: Merupakan laporan hasil penelitian, yang berisikan Deskripsi wilayah
penelitian, temuan hasil penelitian, pembahasan.
Bab V : penutup yang berisikan kesimpulam dan saran-saran.

BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Pengertian Menopause.
Menopause adalah berhentinya menstruasi, perubahan dan keluhan psikologis dan fisik makin menonjol, berlangsung sekitar 3-4 tahun pada usia antara 56-60 tahun (Manuaba, 1999:190). Menopause adalah waktu dari kehidupan seorang wanita saat masa haidnya berakhir. Menopause adalah saat terjadinya haid terakhir pada seorang wanita, dimana sekurang-kurangnya telah satu tahun tidak mendapat haid (Suparto,2000:45).
B. Fase-fase menopause
Menurut Hartono (2001:96) fase-fase menopause dibagi empat, yaitu 1 Fase Permulaan (pramenopause) Fase ini sering kali bermula ketika seorang wanita pada usia awal 50-an dan berlangsung selama empat atau lima tahun. 2 Fase Kedua (perimenopause) Fase ini ditandai dengan ketidakteraturan siklus menstruasi dan juga didapati perubahan beberapa fungsi. 3 Fase Ketiga (menopause) Fase ini ditandai dengan berhentinya haid wanita atau wanita mendapatkan haid yang terakhir yang dikendalikan kerja indung telur normal. 4 Fase Keempat (pasca menopause) Masa tidak haid wanita selama 12 bulan setelah menopause.

C. Penyebab dan proses terjadinya menopause
Penyebab menopause adalah “matinya” (burning out) ovarium. Sepanjang kehidupan seksual seorang wanita kira-kira 400 folikel primordial tumbuh menjadi folikel vesikuler dan berovulasi, sementara beratus-ratus dari ribuan ovum bergenerasi. Pada usia 45 tahun hanya tinggal beberapa folikel primordial yang akan dirangsang oleh Folikel Stimulating Hormon (FSH) dan Luteinizing Hormon (LH) dan produksi estrogen dari ovarium berkurang sewaktu jumlah folikel primordial mencapai nol. Ketika produk estrogen turun dibawah nilai kritis, estrogen tidak lagi menghambat produksi akut FSH dan LH, juga tidak dapat menahan lonjakan LH dan FSH ovulasi untuk menimbulkan siklus ovulasi. Sebaiknya FSH dan LH (terutama FSH) di produksi dalam jumlah dibawah nilai kritis untuk jangka waktu yang singkat sesudah menopause tetapi setelah beberapa tahun ketika folikel primordial yang tersisa menjadi atretik, produksi oleh ovarium turun menjadi hampir nol.
Proses menopause terjadi penurunan fungsi indung telur yang mengakibatkan hormon estrogen dan progesteron berkurang dalam tubuh wanita. Kekurangan hormon estrogen ini menyebabkan keluhan-keluhan yang disebut sebagai sindrom defisiensi estrogen (sindrom menopause).

D. Keluhan-keluhan menjelang masa menjelang masa menopause
Menurut Nurdin (2005) bahwa keluhan masa menopause meliputi: 1 Keluhan vasomotorik (penyempitan/pelebaran pembuluh darah) a. Gejala panas (Hot Flushes)
Yaitu timbulnya rasa panas dimuka, leher, dahi, atau kadang-kadang menjalar ke seluruh tubuh, biasanya terjadi pada malam hari. Timbul beberapa saat kira-kira 15 detik-1 menit. b. Vertigo (pusing hebat) Sakit kepala timbul karena terjadi penimbunan air didalam tubuh seperti ketika haid akibatnya ada cairan yang tertahan di otak. c. Keringat banyak pada malam hari d. Rasa edinginan e. Cemas f. Mudah tersinggung g. Libido menurun 2 Keluhan Atrofi Urogenital Perubahan pada epitel vagina terjadi karena perubahan penurunan kadar estrogen. Gangguan tersebut menyebabkan vagina kering, iritasi, timbulnya keputihan diikuti infeksi, dispareunia dan perdarahan pasca senggama. Keluhan psikiatrik dan neurotic Merasa tertekan, lelah psikis, lelah somatik, susah tidur, merasa ketakutan, konflik keluarga.
E. Perubahan-perubahan tubuh/fisik menjelang masa menopauseMenurut
Levina (2000:149)
A. Perubahan-Perubahan yang terjadi selama Manopause
Disamping perubahan fisik, menopause juga menimbulkan perubahan secara psikologis. Hal ini terjadi karena produksi hormon estrogen di indung telur tiba-tiba berhenti. Biasanya hal ini ditandai dengan terjadinya rasa panas dalam tubuh (hot flushes), perasaan mudah cemas dan mudah berkeringat. Dalam masa ini wanita menopause sering mengalami depresi (menopausal depression) yang ditandai dengan the emptyness syndrom. Sindrom ini muncul dalam bentuk perilaku yang seringkali berada di luar kontrol dan susah dimengerti oleh lawan interaksinya. Secara psikis sindrom ini terjadi karena wanita kehilangan peran reproduksinya disamping dipengaruhi oleh terjadinya berbagai perubahan yang menimbulkan keluhan-keluhan fisik dan psikologis, seperti terjadi sakit pada punggung dan kepala, badan panas, keringat malam, pikiran kacau, vagina mengering dan menciut dan kulit mulai mengeriput. Keadaan-keadaan tersebut secara psikologis sangat menekan meskipun ada juga wanita yang tidak merasakan apa-apa atau tidak ada keluhan-keluhan fisik saat datangnya menopause.
Bagi seorang wanita, menopause itu sendiri berarti datangnya masa tua. Menopause yang dikenal sebagai masa berakhirnya menstruasi atau haid, sering dianggap momok dalam kehidupan wanita. Masa ini umumnya terjadi pada usia 50-an tahun. Masa ini mengingatkan wanita terhadap proses menjadi tua yang disebabkan oleh organ reproduksinya yang tidak berfungsi lagi. Pada masa menopause ini sel telur tidak diproduksi lagi oleh indung telur yang menyebabkan wanita tidak subur lagi, sehingga tidak dapat hamil. Menopause terjadi dalam masa klimakterium, sebuah masa dimana terjadi peralihan dari fase reproduktif ke fase non-reproduktif. Datangnya menopause sendiri sangat individual (variatif) sifatnya, mamun umumnya berkisar pada umur 48-55 tahun.

Bahwa perubahan tubuh/fisik menjelang menopause meliputi : 1 Perubahan-perubahan organ reproduksi yaitu: Uterus, Uterus mengecil karena atrofi endometrium serta hilangnya cairan dan perubahan bentuk jaringan antar sel. Tuba FallopiiLipatan-lipatan tuba menjadi pendek, menipis, mengkerut dan endosalping menipis dan mendatar serta silia menghilang. Ovarium Ovarium menciut, terjadi penurunan fungsi ovarium untuk menghasilkan hormon estrogen dan progesteron, berhenti menghasilkan sel. Servik (leher rahim) Mengerut Vagina Terjadi penipisan dinding vagina, kurang elastis, serret/lender vagina mulai menghilang. Vulva Jaringan vulva menipis karena berkurangnya jaringan lemak, kulit menipis. Pembuluh darah berkurang, sering terjadi dispareunia karena mengkerutnya introitus vulva. 2 Perubahan tubuh karena kurang hormon estrogen a. Dasar panggul Kekuatan dan elastisitasnya menghilang sehingga alat kelamin bagian dalam menurun. (Prolapsus uteri). b. Anus Tonus sfingter melemah dan menghilang sering terjadi inkontinensia alvi. c. Vesika urinaria Sfingter melemah dan menghilang d. Kelenjar payudara
Puting susu mengecil, kurang erektil, mamae kendor dan mendatar.3 Perubahan pada elektro genetal a. Adipositas Penyebaran lemak di tungkai, pinggul, perut bagian bawah dan lengan atas. b. Hipertensi Banyak terjadi pada usia 45-70 tahun. c. Hiperkolesterolemi Merupakan faktor utama penyebab arteriosklerosis. d. Arteriosklerosis Yaitu pengapuran dinding pembuluh darah. e. Osteoporosis Proses pematangan sel tulang terhambat, kadar mineral tulang rendah sehingga tulang mudah patah. F. Faktor-faktor yang mempengaruhi gejala menopause Menurut Hartono (2001:101) terdapat empat faktor yang mempengaruhi gejala pada menopause yaitu:
1 Faktor psikis Perubahan-perubahan psikologis maupun fisik ini berhubungan dengan kadar estrogen, gejala yang menonjol adalah berkurangnya tenaga dan berkurangnya gairah, berkurangnya konsentrasi, kecemasan serta timbulnya perubahan emosi.
2 Faktor sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi mempengaruhi faktor fisik, kesehatan dan pendidikan. Apabila sosial ekonomi baik akan mengurangi beban fisiologis dan psikologis.
3 Faktor budaya dan lingkungan
Pengaruh budaya dan lingkungan sudah dibuktikan sangat mempengaruhi wanita untuk dapat atau tidak dapat menyesuaikan diri dengan fase klimaterium atau menopause.
4 Faktor lain
Wanita yang belum menikah, wanita karir baik yang sudah maupun yang belum berumah tangga akan mempengaruhi keluhan-keluhan yang ringan.

2. KONSELING PERORANGAN

Konseling Perorangan (KP) merupakan layanan konseling yang diselenggarakan oleh seorang Konselor terhadap seorang klien dalam rangka pengetasan masalah pribadi klien. Dalam suasana tetap maka dilaksanakan interaksi langsung antara klien dan Konselor, membahas tentang berbagai hal tentang masalah yang dialami klien. Pembahasan tersebut bersifat mendalam menyentuh hal-hal penting tentang diri klien (bahkan sangat penting yang boleh jadi penyangkut rahasia pribadi klien); bersifat meluas meliputi berbagai sisi yang menyangkut berbagai permasalahan klien; namun juga bersifat spesifik menuju kearah pengentasan masalah.
Dalam layanan Konseling Perorangan konselor memberikan ruang dan suasanan yang memungkinkan klien membuka diri setransparan mungkin. Dalam suasanan seperti itu, ibaratnya klien sedang berkaca. Melalui “kaca” itu klien memahami kondisi diri sendiri (dan lingkungannya) dan permasalahan yang sedang dialami, kakuatan dan kelemahan yang dimiliki, serta kemungkinan upaya untuk mengatasi masalah saya itu. Hasil “berkaca” itu mengarahkan dan menggerakkan klien untuk segera dan secermat mungkin melakukan tindakan pengentasan atas kekurangan dan kelemahan yang ada pada dirinya.
Menciptakan suasanan “berkaca” dan membawa klien ke hadapan kaca sehingga klien memahami kondisi diri dan mengupayakan perbaikan bagi dirinya, sering tidak kali mudah. Klien boleh ragu-ragu berdiri dihadapan kaca; tidak tahu apa dan bagaimana cara membaca dan menafsirkan apa yang terlihat didalam kaca; tidak tahu apa yang harus diperbuat seiring dengan pemahaman terhadap kondisi sebagaimana terlihat didalam kaca itu. hal yang ironis dapat berkembang, misalnya apabila klien salah tafsir dan tidak mau menerima apa yang dilihatnya di dalam kaca; peristiwa “buruk muka cermin dibelah” dapat menjadi kenyataan. Sebaliknya, adalah sangat menguntungkan, bagi klien (dan juga konselor), apabila klien dapat dengan mudah dan lancar menjalani proses “berkaca” itu dan menindaklanjutinya.
Terkait dengan lengkapnya penerapan pendekatan dan teknik serta asas-asas yang dimaksudkan itu, layanan Konseling Perorangan sering dianggap sebagai “jantung hatinya” pelayanan konseling. Apa artinya? Pertama, Konseling Perorangan seringkali merupakan layanan esensial dan puncak (paling bermakna) dalam pengentasan masalah klien. Kedua, seorang ahli (dalam hal ini Konselor) yang mampu dengan baik menerapkan secara synergies berbagai pendekatan, teknik dan asas-asas konseling dalam layanan Konseling Perorangan, diyakini akan mampu juga (dengan cara yang lebih mudah) menyelenggarakan jenis-jenis layanan lain dalam keseluruhan spectrum pelayanan konseling.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Tujuan umum layanan Konseling Perorangan adalah terentasnya masalah yang dialami klien. Apabila masalah klien itu dicirikan sebagai (a) sesuatu yang tidak disukai adanya, (b) suatu yang ingin dihilangkan, dan/atau (c) sesuatu yang dapat menghambat atau menimbulkan kerugian, maka upaya pengentasan masalah klien melalui Konseling Perorangan akan mengurangi intensitas ketidaksukaan atau keberadaan sesuatu yang dimaksud; atau, meniadakan keberadaan sesuatu yang dimaksud; dan/atau mengurangi intensitas hambatan dan/atau kerugian yang ditimbulkan oleh suatu yang dimaksudkan itu. dengan layanan Konseling Perorangan bebang klien diringankan, kemampuan klien ditingkatkan, potensi klien dikembangkan.
Tujuan umum layanan Konseling Perorangan adalah pengentasan masalah klien dengan demikian, fungsi pengentasan sangat dominan dalam layanan Konseling Perorangan.
2. Tujuan Khusus
Dalam kerangka tujuan umum itu, tujuan khusus Layanan Konseling Perorangan dapat dirinci dan secarfa langsung dikaitkan dengan fungsi-fungsi konseling yang secara menyeluruh diembannya. Pertama, melalui layanan Konseling Perorangan klien memahami seluk-beluk masalah yang dialami secara mendalam dan komprehensif, serta positif dan dinamis (fungsi pemahaman). Kedua, pemahaman itu mengarah kepada dikembangkannya persepsi dan sikap serta kegiatan demi terentaskannya secara spesifik masalah yang dialami klien itu (fungsi pengentasan). Pemahaman dan pengentasan masalah merupakan focus yang sangat khas, kongkrit dan langsung ditangani dalam layanan Konseling Perorangan.
Ketiga, pengembangan dan pemeliharaan potensi klien dan berbagai unsur positif yang ada pada dirinya merupakan latar belakang pemahaman dan pengentasan masalah klien dapat dicapai (fungsi dan penegembangan/pemeliharaan). Bahkan, secara tidak langsung, layanan Konseling Perorangan sering kali menjadikan pengembangan/pemeliharaan potensi dan unsur-unsur positif klien sebagai focus dan sasaran layanan. Disamping itu, keempat, pengembangan/pemeliharaan potensi dan unsur-unsur positif yang ada pada diri klien, diperkuat oleh terentaskannya masalah, akan merupakan kekuatan bagi tercegah menjalarnya masalah yang sekarang sedang dialami itu, serta (diharapkan) tercegah pula masalah-masalah baru yang mungkin timbul (fungsi pencegahan).
Lebih jauh, kelima, apabila masalah yang dialami klien menyangkut dilanggarnya hak-hak klien sehingga klien teraniaya dalam kadar tertentu, layanan Konseling Perorangan dapat menangani sasaranan yang bersifat advokasi (fungsi advokasi). Melalui layanan Konseling Perorangan klien memilki kemampuan untuk membela diri sendiri mengahadapi teraniayanya itu. Kelima sasaran yang merupakan wujud dan keseluruhan fungsi konseling itu, secara langsung mengarah kepada dipenuhinya kualitas untuk keperikehidupan sehari-hari yang efektif (effective daily living).
Gabungan ca[aian tujuan umum dan tujuan khusus yang dapat diraih melalui layanan Konseling Perorangan memperlihatkan betapa layanan Konseling Perorangan dapat disebut sebagai “jantung hatinya” seluruh pelayanan konseling. Dengan kemampuan layanan Konseling Perorangan Konselor dapat menjangaku keseluruhan daerah pelayanan konseling.

C. KOMPONEN
Dalam layanan Konseling Perorangan berperan dua pihak, yaitu seorang Konselor dan seorang klien.
1. Konselor
Konselor adalah seorang ahli dalam bidang konseling, yang memiliki kewenangan dan mandate secara profesional untuk melaksankan kegiatan pelayanan konseling. Dalam layanan Konseling Perorangan Konselor menjadi actor yang secara aktif mengemban proses konseling melalui dioperasionalkannya pendekatan, teknik dan asas-asas konseling terhadap klien. Dalam proses konseling, selain media pembicaraan verbal, Konselor juga dapat menggunakan media tulisan, gambar, media elektronik, dan media pembelajaran lainnya, serta media pengembangan tingkah laku. Semua hal itu diupayakan Konselor dengan cara-cara yang cermat dan tepat, demi terentaskannya masalah yang dialami klien.

2. Klien
Klien adalah seorang individu yang sedang mengalami masalah, atau setidak-tidaknya sedang mengalami sesuatu yang ia sampaikan kepada orang lain. Klien menanggung semacam beban, uneg-uneg, atau mengalami sesuatu kekurangan yang ia ingin isi; atau ada sesuatu yang ingin dan/atau perlu dikembangkan pada dirinya; semuanya itu agar ia mendapatkan suasana pikiran dan/atau perasaan yang lebih ringan, memperoleh nilai tambah, hidup lebih berarti, dan hal-hal positif lainnya dalam menjalani hidup sehari-hari dalam rangka kehidupan dirinya secara menyeluruh.
Klien datang dan betemu Konselor dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang datang sendiri dengan kemauan yang kuat untuk memenuhi Konselor (self-refferal); ada yang datang dengan perantaraan orang lain; bahkan ada yang datang (mungkin terpaksa) karena didorong atau diperintah oleh pihak lain. Kedatangan klien bertemu Konselor disertai dengan kondisi tertentu yang ada pada diri klien itu sendiri. Dalam pada itu, apapun latar belakang kedatangan klien, dan bagaimanapun juga kondisi diri klien sejak paling awal pertemuannya dengan Konselor, semuanya itu harus disikapi oleh Konselor dengan penerapan asas kekinian dan prinsif “klien tidak pernah salah” (KTPS).
Apapun latar belakang dan kondisi klien yang datang menemui Konselor, semuanya itu perlu mendapatkan perhatian dan penanganan sepenuhnya oleh Konselor. Melalui proses pelayanan Konseling Perorangan, klien bersama Konselor melakukan upaya tersinergikan untuk mencapai tujuan layanan. Dari segi klien, keefektifan layanan Konseling Perorangan ditentukan oleh kondisi klien sejak sebelum bertemu Konselor sampai dengan aktifitas klien pasca layanan Konseling Perorangan.

D. ASAS
Kekhasan yang paling mendasar layanan Konseling Perorangan adalah hubungan interpersonal yang amat intens antara klien dan Konselor. Hubungan ini benar-benar sangat mempribadi, sehingga boleh dikatakan antara kedua pribadi itu “saling masuk-memasuki”. Konselor memasuki priadi klien dank lien memasuki pribadi Konselor. Proses layanan konseling dikembangkan sejalan dengan suasana yang demikian, sambil di dalamnya dibangun kemampuan khusus klien untuk keperluan kehidupannya. Asas-asas konseling memperlancar proses dan memperkuat bangunan yang ada di dalamnya.
1. Etika Dasar Konseling
Dasar etika konseling yang dikemukakan oleh Munro, Manthei, Small, yaitu kerahasiaan, kesukarelaan, dan keputusan diambil oleh klien sendiri, mendasari seluruh kegiatan layanan Konseling Perorangan.

a. Kerahasiaan
Tidak pelak lagi, hubungan interpersonal yang amat intens sanggup membongkar berbagai isi pribadi yang paling dalam sekalipun, terutama pada sisi klien. Untuk ini asas kerahasiaan menjadi jaminannya. Segenap rahasia pribadi klien yang terbongkar menjadi tanggung jawab penuh Konselor untuk melindunginya. Keyakinan klien akan adanya perlindungan yang demikian itu menjadi jaminan untuk suksesnya pelayanan.
b. Kesukarelaan dan Keterbukaan
Kesukarelaan penuh klien untuk menjalani proses layanan Konseling Perorangan bersama Konselor menjadi buah dari terjaminnya kerahasian pribadi klien. Dengan demikian kerahasiaan-kesukarelaan menjadi unsur dwi-tunggal yang mengantarkan klien ke arena proses layanan Konseling Perorangan. Asas kerahasiaan-kesukarelaan akan menghasilkan keterbukaan klien.
Klien self-refferal pada awalnya dalam kondisi sukarela untuk bertemu Konselor. Kesukarelaan awal ini harus dipupuk dan dikuatkan. Apabila penguatan kesukarelaan awal ini gagal dilaksanakan maka keterbukaan tidak akan terjadi dan kelangsungan proses layanan terancam kegagalan.
Menghadapi klien yan non-self-refferal tugas Konselor menjadi lebih berat, khususnya dalam mengembangkan kesukarelaan dan keterbukaan klien. Dalam hal ini, seberat apapun pengembangan kesukarelaan dan keterbukaan itu harus dilakukan Konselor, apabila proses konseling hendak dihidupkan.
c. Keputusan Diambil oleh Klien Sendiri
Inilah asas yang secara langsung menunjang kemandirian klien. Berkat rangsangan dan dorongan Konselor agar klien berpikir, menganalisis, menilai dan menyimpulkan sendiri, mempersepsi, merasakan dan bersikap sendiri atas apa yang ada pada diri sendiri dan lingkungannya; akhirnya klien mampu mengambil keputusan sendiri berikut menanggung resiko yang mungkin ada sebagai akibat keputusan tersebut. Dalam hal ini, Konselor tidak memberikan syarat apapun untuk untuk diambilnya keputusan oleh klien; tidak mendesak-desak atau mengarahkan sesuatu; begitu juga tidak memberikan semacam persetujuan ataupun konformasi atas sesuatu yang dikehendaki klien, meskipun klien memintanya.
Konselor dengan tegas “memberikan” klien tegak dengan sendirinya menghadapi tantangan yang ada. Dalam hal ini bantuan yang tidak putus-putusnya diupayakan Konselor adalah memberikan semangat (dalam arah “kamu pasti bisa”) dan meneguhkan hasrat, memperkaya informasi, wawasan dan persepsi, memperkuat analisis atas antagonism ataupun kontradiksi yang terjadi. Dalam hal ini suasana yang “ memfrustasikan klien” dan sikap “tiada maaf” merupakan cara-cara spesifik untuk membuat klien lebih tajam, kuat dan tegas dalam melihat dan mengahdapi tantangan.
2. Asas Kekinian dan Kegiatan
Asas kek\inian diterapkan sejak paling awal Konselor bertemu klien. Dengan nuansa kekinianlah segenap proses layanan dikembangkan, dan dasar kekinian pulalah kegiatan klien dalam layanan dijalankan.
Klien dituntut untuk benar-benar aktif menjalani proses pembantuan melalui layanan Konseling Perorangan, dari awal dan selama proses layanan, sampai pada periode pasca layanan. Tanpa keseriusan klien akan sangat terbatas, ataupun keseluruhan proses layanan itu menjadi sia-sia.
3. Asas Kenormatifan dan Keahlian
Segenap aspek teknis dari isi layanan Konseling Perorangan adalah normatif, tidak ada satupun yang boleh terlepas dari kaidah-kaidah norma yang berlaku, baik norma agama, adat, hukum, ilmu, dan kebiasaan. Klien dan Konselor terikat sepenuhnya oleh nilai-nilai dan norma yang berlaku.
Sebagai ahli dalam pelayanan konseling, Konselor mencurahkan keahlian profesinalnya dalam pengembangan Konseling Perorangan untuk kepentingan klien dengan menerapkan segenap asas tersebut diatas. Keahlian Konselor itu diterapkan dalam suasana normative terhadap klien yang sukarela, terbuka, aktif agar klien mampu mengambil keputusan sendiri. Seluruh kegiatan itu bernuansa kekinian dan rahasia pribadi sepenuhnya dirahasiakan.

E. PENDEKATAN DAN TEKNIK
Dalam layanan Konseling Perorangan pada umumnya digunakan pendekatan elektik yang mensinergikan unsur pendekatan direktif non-direktif, humanistic-behavioristik, kognitif-emosional-afektif, melaluui penerapan berbagai teknik dalam spectrum yang luas, sesuai dengan konten permasalahn klien yang dibahas. Berbagai teknik dalam pendekatan elektik itu digunakan oleh Konselor sejak awal menerima klien, sepanjang proses layanan, dan dalam menindaklanjuti hasil layanan.
1. High-Touch dan High-Tech
Hubungan antara Konselor dank lien dalam layanan Konseling Perorangan berlangsung sangat intens. Konselor menggunakan pendekatan dan berbagai teknik high-touch yang mengentas asfek-asfek pribadi klien dalam seluruh proses konseling yang dibangunnya. Dengan high-touch klien didekati, dirinya dibedah dan dimasuki, digerakkan dan dibangkitkan; unsur-unsur kemandiriannya ditegakkan.
Seiring dengan pembedahan ”diri klien itu, kemampuannyapun dibangun. Dengan teknik-teknik khusus yang bernuansa high-tech Konselor mengembangkan dan membina klien untuk memiliki kompetensi yang berguna, khususnya untuk mengatasi masalah yang dialaminya. Pendekatan high-tech ini diselenggarakan di atas suasana yang telah dibangun melalui pendekatan high-touch. Dengan demikian, kedua pendekatan ini digunakan secara terpadu untuk terselenggaranya keseluruhan layanan Konseling Perorangan yang efektif.
2. Pengembangan Proses Layanan Konseling Perorangan
Badan layanan Konseling Perorangan berlangsung sejak awal Konselor tertemu klien sampai diakhirinya layanan. Dalam keseluruhan prose itu digunakan berbagai pendekatan dan teknik untuk membangun hubungan yang intensif antara klien dan Konselor.

a. Penerimaan terhadap Klien
Konselor menerima klien (baik klien yang self-refferal maupun datang atas pengaruh pihak ketiga) secara terbuka, apa adanya, dengan prinsip KTPS, ramah dan lembut, sehingga klien merasa diterima dalam suasana senyaman mungkin. Penampilan mimic, bahasa verbal dan non-verbal yang mengajak dan bersahabat yang menciptakan suasanan kondusif dan tanpa-praduga dan tanpa-penilaian, akan membuat klien merasa amamn dan nyaman, merasa diterima, dan (lebih jauh) merasa kondisi dan kepentingan dirinya (akan) terakomodasikan.
Suasana penerimaan tersebut akan lebih terasa apabila lingkungan fisik tempat dilangsungkannya layanan Konseling Perorangan cukup mendukung. Luas ruangan, kondisi dan letak parabot, cahaya, udara dan aroma, serta asesoris pelengkap lainnya, perlu mendapat perhatian Konselor.
b. Posisi Duduk
Pembicaraan ataupun interaksi anatara Konselor dank lien dalam proses Konseling Perorangan bersifat formal layanan, sehingga perlu diatur. Posisi duduk yang standar diberlakukan, dan posisi yang dimodifikasikan dilakukan hanya dalam kondisi yang benar-benar menuntut.
c. Penstrukturan
Penstrukturan diperlukan untuk membawa klien memasuki arena layanan Konseling Perorangan untuk pengembangan dirinya. Bagi klien yang baru pertama kali bertemu Konselor dan belum tahu apa-menahu tentang apa, mengapa dan bagaimana konseling, khususnya layanan Konseling Perorangan, memerlukan penstrukturan penuh.
Kedalaman dan volume dan kapan penstrukturan dilaksanakan, disesuaikan dengan kondisi pemahaman, wawasan, persepsi dan sikap klien terhadap pelayanan konseling pada umunya. Kemajuan yang dicapai klien dalam layanan Konseling Perorangan yang berlanjut menentukan tingkat keperluan dan sisi penstrukturan.
d. Teknik Umum
Pengembangan proses layanan Konseling Perorangan oleh konselor dilandasi oleh dan sangat pengaruhi oleh suasana penerimaan, posisi duduk, dan hasil penstrukturan. Lebih lanjut, Konselor menggunakan berbagai teknik untuk mengembangkan proses Konseling Perorangan yang efektif dalam mencapai tujuan layanan. Teknik-teknik tersebut meliputi:
1) Kontak mata
2) Kontak psikologis
3) Ajakan untuk berbicara
4) Tiga M (mendengar dengan cermat, memahami secara tepat, merespon secara tepat dan positif)
5) Keruntutan
6) Pertanyaan terbuka
7) Dorongan minimal
8) Refleksi (isi dan perasaan)
9) Penyimpulan
10) Penafsiran
11) Konfrontasi
12) Ajakan untuk memikirkan sesuatu yang lain
13) Peneguhan hasrat
14) “penfrustrasian” klien
15) Strategi “tidak memaafkan klien”
16) Suasana diam
17) Transferensi dan kontra-transferensi
18) Teknik eksperiensial
19) Interprestasi pengalaman masa lampau
20) Asosiasi bebas
21) Sentuhan jasmani
22) Penilaian
23) Pelaporan

Penerapan teknik-teknik tersebut diatas dilakukan secara elektik, dalam arti tidak berurutan satu persatu yang satu mendahului yang lain, melainkan terpilih dan terpadu mengacu kepada kebutuhan proses interaksi efektif sesuai dengan objek yang direncanakan dan suasana proses pembentukan yang berkembang. Kontak psikologis dibina sejak awal-awal proses layananan yang di alaminya ada ajakan untuk berbicara; selanjutnya berkembanglah interaksi intensif antara klien dan konselor melalui pertanyaan terbuka, refleksi, penyimpulan, penafsiran, yang kadang-kadang (sesuai dengan keperluan) diselingi dengan konfrontasi, ajakan untuk memikirkan sesuatu yang lain, dan peneguhan hasrat. Dalam pada itu, kontak mata, tiga-m, keruntutan dan dorongan minimal selalu mewarnai dan menyertai seluruh dinamika interaksi.
Teknik “menfruktuasikan” dan strategi “tiada maaf” hanya digunakan secara benar-benar terpilih untuk membangkitkan dan menyadarkan klien akan tantangan yang harus ia hadapi serta meninggikan motivasi dan semangat dalam memasuki dan menanggapi kesempatan yang terbuka. Kedua teknik ini, dan juga teknik konfrontasi, seringkali diikuti oleh “suasana diam”.
Teknik berkenaan dengan tranferensi dan kontraferensi dapat dimunculkan dalam proses layanan dengan kontak psikologis yang benar-benar intens. Intensitas proses layanan dapat ditempuh lebih jauh melalui teknik-teknik eksperimensial, analisis pengalaman masa lampau, dan asosiasi bebas. Teknik-teknik yang disebut terakhir ini hanya dilakukan untuk keperluan pendalaman yang khas sesuai dengan permasalahan klien. Untuk pendalaman yang yang dimaksudkan itu, dan untuk memberikan nuansa yang lebih bersifat afektif, sentuhan jasmaniah dapat dilakukan.
Proses layanan Konseling Perorangan diakhiri dengan kegiatan penilaian dan pelaporan. Kegiatan ini dilaksanakan pada setiap kali sesi layanan Konseling Perorangan, khususnya kegiatan penilaian segera (laiseg).
e. Volume Bicara
Interaksi klien-Konselor pada umumnya diselenggarakan melalui pembicaraan (dialog-verbal). Bentuk-bentuk kegiatan dengan menggunakan cara dan media selain dialog verbal dapat dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus layanan.
Dalam (dialog verbal) hal itu Konselor tidak boleh mendominasi pembicaraan sehingga klien menjadi hanya sekedar pendengar. Sebaliknya, dalam proses pembicaraan itu harus ditekankan pentingnya klien memahami, merasakan, memikirkan, mempersepsi, mengukur wawasan dan sikap, mensinergikan berbagai hal dalam dirinya apa-apa yang menajadi konten pembicaraan.
Klien benar-benar aktif dan Konselor merangsang, mendorong dan membangun kondisi bebas dan kondusif bagi aktifitas klien. Dalam hal ini, klienlah yang seharusnya jauh lebih banyak bicara; membuka dirinya; mengungkapkan apa yang menjadi perasaannya, pemikirannya, prinsip-prinsip yang diyakininya, keinginan dan semangatnya, sikapnya, serta kondisi diri secara menyeluruh dan khusus. Dalam beraktifitas klien itu Konselor menyelenggarakan 3-M dan teknik-teknik interaksi intensif lainnya, menurut alur keruntutan. Volume bicara Konselor terbatas dan terpusat pemberian rangsangan dan dorongan, pendalaman dan penggerakan, pemberian kesempatan dan penyuluhan. Konselor berbicara hanya sekitar sepertiga volume bicara hanya sekitar sepertiga volume bicara klien.
Aktivitas klien-Konselor melalui dialog verbal yang sangat intens tersebut tidak berarti meniadakan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya. Ekspresi non-verbal dapat secara langsung dan wajar mewarnai komunikasi verbal, sedangkan bentuk-bentuk kegiatan tertentu lainnya dilaksanakan untuk mencapai tujuan khusus layanan.
3. Teknik Khusus
a. Keterkaitan Teknik Umum dan Teknik Khusus
Teknik-teknik umum, termasuk di dalamnya penerimaan terhadap klien, posisi duduk dan penstrukturan diterapkan Konselor dalam rangka mengembangkan proses layanan Konseling Perorangan sejak langkah paling awal sampai dengan akhirnya. Teknik-teknik umum tersebut terbuka untuk dipakai, bahkan sebagian besar di antaranya harus diterapkan, dalam melayani semua “jenis” klien dengan aneka masalah mereka. Variasi penggunaan teknik umum sangat tergantung pada dinamika perkembangan proses layanan dan konten khusus yang direncanakan.
Di dalam keseluruhan proses layanan Konseling Perorangan seringkali muncul hal-hal khusus yang secara spesifik merupakan tujuan yang hendak dicapai. Untuk ini klien perlu menjalani seperangkat kegiatan yang secara langsung mengarah kepada dicapainya tujuan khusus tersebut. Melalui penerapan teknik-teknik khusus, Konselor memfasilitas klien untuk melatih dan mengembangkan diri agar memiliki kompetensi khusus untuk terwujudnya hal-hal yang ingin dicapai itu. Dengan demikian, dalam keseluruhan pengembangan proses layanan melalui teknik-teknik umum, Konselor menerapkan teknik-teknik khusus mencapai tujuan spesifik yang diperlukan klien. Tujuan spesifik ini dapat berupa kompetensi yang diperoleh melalui perubahan tingkah laku.
b. Jenis dan Penerapan Teknik Khusus
Dalam keeklektikan proses layanan Konseling Perorangan, teknik-teknik khusus digunakan untuk membina kemampuan tertentu pada diri klien. Kemampuan ini terlebih-lebih lagi terarah kepada tuntutan yang harus dipenuhi dalam kehidupannya sehari-hari (effective daily living). Jenis-jenis teknik khusus itu adalah:

1) Pemberian informasi
2) Pemberian contoh dan latihan bertingkah laku
3) Pemberian contoh pribadi
4) Perumusan tujuan
5) Latihan penenangan: sederhana dan penuh
6) Kesadaran tubuh
7) Desensitisasi dan sensitisasi
8) Kursi kosong
9) Permainan peran dan permainan dialog
10) Latihan keluguan
11) Latihan seksual
12) Analisis transaksional
13) Analisis gaya hidup
14) Kontrak
Sebagaimana penggunaan teknik-teknik umum yang diutarakan terdahulu, penggunaan teknik-teknik khusus dalam layanan Konseling Perorangan juga secara terpilih dan terpadu; secara elektik. Bedanya, apabila teknik umum dapat digunakan dalam proses layanan Konseling Perorangan untuk semua masalah, maka teknik khusus hanya digunakan untuk masalah-masalah tertentu saja; lebih khusus lagi, teknik khusus digunakan untuk mencapai tujuan spesifik tertentu yang perlu dikuasai klien dalam pengentasan masalah.
Secara spesifik, penerapan teknik-teknik khusus lebih banyak menuntut kegiatan yang bersifat tindakan (modus action) daripada bicara (modus verbal). Klien (dengan bimbingan Konselor) terlibat aktif secara langsung menjalani berbagai kegiatan atau tidndakan dalam rangka membentuk diri sendiri untuk menguasai kemampuan tertentu. Dalam hal ini Konselor lebih banyak berperan sebagai pelatih profesional
Teknik-teknik khusus lainnya yang dapat disebutkan adalah pemberian nasihat. Teknik ini seringkali ternyata tidak efektif. Nasihat mudah diucapkan (oleh siapapun juga), enak didengar, layak untuk di-iya-kan, melainkan tidak ada jaminan untuk keterlaksanaannya. Dalam proses layanan Konseling Perorangan, penggunaan nasihat sedapat-dapatnya dihindarkan.
4. Pentahapan
Secara menyeluruh dan umum, proses layanan Konseling Perorangan terentang dari kegiatan paling awal sampai kegiatan akhir, dapat di[ilah dalam lima tahap, yaitu tahap-tahap (1) pengantaran (introduction), (2) penjajakan (investigation), (3) penafsiran (interpretation), (4) pembinaan (intervention), dan (5) penilaian (inspection). Diantara kelima tahap itu tidak ada batas yang jelas, bahkan kelimanya cenderung sangat bertumpang tindih. Dalam keseluruhan proses layanan Konseling Perorangan, Konselor harus setiap kali menyadari posisi dan peran yang sedang dilakukannya. Kegiatan pengantaran dan penilaian jelas sekali posisinya, yaitu satu di awal proses, sedangkan yang satu lagi diakhir proses. Setelah proses Konseling Perorangan diawali dengan penerimaan terhadap klien, posisi duduk dan penstrukturan, Konselor langsung memasuki tahap kedua, ketiga dan keempat. Ketiga tahap ini sangat saling bertumpang tindih. Namun demikian, betapapun tumpang tindihnya ketiganya itu, Konselor harus menyadari apakah dirinya sedang menjajaki, menginterpretasi atau mengintervensi. Kegiatan menjajaki-menginterprestasi-mengintervensi itu kadangkala dilaksanakan secara “pelan-pelan” dan “halus” melalui teknik-teknik umum untuk mengembangkan aspek-aspek kognitif dan afektif klien; kadang-kadang tiga kegiatan pengembangan klien itu dimunculkan dalam bentuk satu paket latihan atau perubahan tingkah laku dengan menggunakan teknik-teknik khusus. Dengan menggunakan teknik-teknik umum dan/atau teknik khusus, penerapan tahap-tahap itu sering kali tidak sekali jadi; prosesnya maju-mundur; diulangi dan dilanjutkan; didalami dan ditingkatkan. Disinilah tumpang tindih tidak terhindarkan, atau bahkan justru diperlukan untuk keberhasilan yang tindih.
5. Waktu dan Tempat
Pada dasarnya layanan Konseling Perorangan dapat diselenggarakan kapan saja, dimanapun juga, termasuk diruang praktik pribadi (privat) Konselor, atas kesepakatan klien, dengan memperhatikan (a) kenyamanan klien, dan (b) diterapkannya asas kerahasiaan secara ketat. Kondisi tempat layanan perlu mendapat perhatian tersendiri dari Konselor. Selain kursi dan meja secukupnya, ruangan konseling dapat dilengkapi dengan tempat menyimpan bahan-bahan seperti: dokumen, laporan, buku, dan lain-lain. Peralatan relaksasi dapat ditambahkan. Cahaya dan udara ruangan harus terpelihara. Dalam hal ini kondisi ruangan tempat layanan diselenggarakan menggambarkan kesiapan Konselor melaksanakan layanan profesionalnya bagi para klien (termasuk ruangan praktek konseling).
Kapan layanan Konseling Perorangan diselenggarakan juga atas kesepakatan kedua belah pihak, klien dan Konselor. Kepentingan klien diutamakan, tanpa mengabaikan kesempatan dan kondisi Konselor. Konselor yang memiliki hak panggil atas klien perlu mengatur pemanggilan terhadap klien sehingga tidak mengganggu kepentingan klien dan sedapat-dapatnya tidak menimbulkan kerugian apapun pada diri klien.
Jadwal apapun janji untuk bertemu Konselor ditepati dengan baik; pengingkarannya dapat berdampak negative terhadap proses layanan Konseling Perorangan. Apabila ada jadwal atau janji untuk bertemu itu perlu diubah, maka klien harus diberitahu sebelum waktu yang dijadwalkan/dijanjikan itu tiba. Untuk sesi-sesi layanan Konseling Perorangan yang berlanjut (sesi kedua, ketiga, dsb) diperlukan ketetapan mengenai waktu dan tempat yang dipatuhi kedua belah pihak.
6. Penilaian
Terhadap hasil layanan Konseling Perorangan perlu dilaksanakan tiga jenis penilaian, yaitu:
a. Penilaian segera (laiseg)
b. Penilaian jangka pendek (laijapen)
c. Penilaian jangka panjang (laijapang)
Penilaian segera dilaksanakan pada setiap hasil akhir sesi layanan, sedang penilaian janka pendek dilakukan setelah klien berada pada masa pasca layanan selama satu minggu sampai satu bulan. Focus penilaian diarahkan kepada diperolehnya informasi dan pemahaman baru (U-understanding), dicapainya keringan beban perasaan (C-comport), dan direncanakannya kegiatan pasca Konseling Perorangan alih klien dalam rangka perwujudan upaya pengentasan masalah klien (A-action). Penilaian atas UCA dilaksanakan pada tahap laiseg, sedangkan laijapen dan laijapang difokuskan kepada kenyataan tentang terentaskannya masalah klien secara menyeluruh.
7. Program Elektronik
Selain menggunakan modus verbal dan modus action sebagaimana digambarkan di atas, layanan Konseling Perorangan dapat pula diselenggarakan melalui program elektronik. Materi konseling tertentu dapat dikemas kedalam Rekaman Computer Intraktif (RKI). Melalui rekaman ini seseorang dapat menjalani layanan tanpa secara langsung (face to face) bertemu Konselor.
Pendekatan e-counseling tersebut merupakan salah satu variasi bentuk layanan Konseling Perorangan. Bentuk variasi itu harus dipersiapkan secara cermat dan matang oleh Konselor yang selanjutnya ditampilkan dalam rekaman intraktif. Aplikasi high-touch dan high-tech perlu diupayakan untuk sebesar-besarnya masuk kedalam rekaman.
Dengan adanya fasilitas semacam RKI, seseorang dapat dengan bebas memeriksa dan mengembangkan diri sendiri, khususnya untuk konten yang menjadi isi rekaman khusus itu. Materi rekaman itu memang terbatas, dan pengembangan sangat tergantung pada improvisasi dan inisiatif pemakainya. Jika diperlukan, setelah mengakses RKI, seseorang dapat mmenjumpai Konselor, dan /atau siapapun yang dianggap dapat membantu, untuk menindaklanjuti perolehannya dari RKI itu.

8. Keterkaitan
Sebagai “jantung hatinya” pelayanan konseling, layanan Konseling Perorangan sering kali mengintegrasikan berbagai konten yang menjadi isi layanan-layanan lain. Dalam layanan Konseling Perorangan dapat dibahas dan dilatihkan hal-hal yang terkait dengan materi orientasi, informasi, penempatan dan pernyaluran terhadap orang ketiga, dan mediasi. Pengintegrasian materi yang dimaksudkan itu harus benar-benar sesuai dengan masalah klien yang menjadi pokok bahasan dalam layanan Konseling Perorangan.
Dengan luasnya kemungkinan “integrasi materi” dalam layanan Konseling Perorangan seperti tergambar di atas, tidaklah berarti. Layanan-layanan konseling lain tetap berdiri sendiri, dan untuk keperluan tertentu, layanan-layanan lain itu justru dapat merupakan layanan tindak lanjut setelah sebelumnya klien menjalani layanan Konseling Perorangan. Sangat dimungkin pambahasan atau pelaksanaan kegiatan tertentu tidak dapat dituntaskan dalam proses layanan Konseling Perorangan, sehingga perlu ditindaklanjuti melalui diselenggarakannya layanan lain. Misalnya, setelah menjalani layanan Konseling Perorangan, seseorang perlu mengikuti kegiatan orientasi, pengujian informasi, penempatan, penguasaan konten, bimbingan kelompok. Layanan tindak lanjut pasca Konseling Perorangan justru bertujuan untuk lebih mamantapkan atau menentukan upaya pengentasan masalah klien.
Dari sisi lain, layanan Konseling Perorangan dapat pula merupkan layanan tindak lanjut setelah seseorang mengikuti layanan konseling lain. Dengan mengikuti layanan Konseling Perorangan, individu yang bersangkutan ingin lebiih jauh mendalami dirinya sendiri dan membina diri dalam rangkan pengentasan masalah-masalah.

F. KEGIATAN PENDUKUNG
1. Aplikasi Instrumentai
Hasil instrumentasi, baik tes maupun non-tes dapat digunakan langsung maupun tidak langsung dalam pelayanan Konseling Perorangan. Berdasarkan hasil tes, hasil ujian, hasil AUM, sosiometri, angket dan lainnya, seorang Konselor yang memiliki hak panggil atas klien dapat memanggil klien untuk menjalani layanan Konseling Perorangan. Perlu diingat bahwa mereka yang memerlukan layanan Konseling Perorangan bukan hanya individu-individu yang menduduki “posisi rendah” dalam hasil instrumentasi, melainkan juga posisi menengah atau tinggi sekalipun. Semua individu dalam posisi manapun berpotensi mengalami masalah yang pengentasannya maupun pencegahannya dapat dilakukan melalui layanan Konseling Perorangan. Dalam mengembangkan fungsi-fungsi konseling, layanan Konseling Perorangan dapat mendorong dan menyemangati mereka yang berpotensi tinggi untuk meraih hasil-hasil optimal dalam kegaitan belajar dan kehidupannya.
Hasil instrumentasi juga dapat dijadikan konten yang diwacanakan dalam proses layanan. Dalam pada itu, sewaktu proses layanan sedang berjalan, kadangkala diperlukan aplikasi instrumens tertentu. Klien dan/atau Konselor mungkin merasa perlu adanya data tertentu tentang klien yang dapat diperoleh melalui penggunaan instrument. Data yang terungkapkan itu kemudian ditafsirkan sebagai dasar bagi diambilanya arah intervensi yang tepat.
Terakhir, instrument tertentu dapat digunakan dalam tahap penilaian hasil dan proses layanan Konseling Perorangan. Aplikasi instrument dalam penilaian ini akan memberikan data yang lebih konkrit dan akurat.
2. Himpunan Data
Sama dengan hasil instrumentasi, data yang termuat di dalam himpunan data dapat dijadikan konten yang diwacanakan dalam layanan Konseling Perorangan. Lebih jauh, data proses dan hasil layanan perlu didokumentasikan di dalam himpunan data.
3. Konferensi Kasus
Konferensi harus bertujuan untuk memperoleh data tambahan tentang klien serta untuk mendapatkan dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak (yang diundang dalam konferensi kasus) bagi pengentasan masalah klien dengan tujuan demikian itu, konferensi harus dapat dilakukan sebelum dilaksanakannya layanan Konseling Perorangan dan/atau pasca layanan sebagai tindak lanjut layanan. Kapanpun konferensi kasus dilaksanakan, rahasia pribadi klien harus terjaga secara ketat.
4. Kunjungan Rumah
Kunjungan rumah sama dengan konferensi kasusu. Dengan demikian, keterkaitan kunjungan rumah terhadap layanan Konseling Perorangan juga sama dengan keterbaikan konferensi kasus, baik sebelum maupun sesudah dilaksanakan layanan Konseling Perorangan. Kunjungan rumah ini dapat diganti dengan mengundang orang tua untuk membahas masalah (calon) klien dan anggota keluarga yang terkait dengan masalah tersebut.
5. Alih Tangan Kasus
Diketahui bahwa tidak semua masalah yang dialami individu menjadi kewenangan Konselor untuk menanganinya. Masalah-masalah yang bersifat criminal, penyakit, keabnormalan akut, spiritual dan guna-guna berada diluar kewenangan Konselor. Oleh karena itu, apabila Konselor didatangi oleh klien yang mengalami masalah-masalah terkati dengan salah satu atau lebih hal-hal tersebut, konselor perlu secara langsung menahan diri dan tidak menanganinya. Lebih-lebih untuk masalah yang bersifat criminal, Konselor harus benar-benar terlepas dari keterlibatan apapun dengan kondisi kriminalitas klien. Adalah sangat berbahaya melibatkan diri, apalagi melayani individu yang terindikasi criminal. Sekecil apapun keterlibatan itu, yang bersangkutan harus melaporkan kepihak yang berwajib.
Untuk masalah-masalah yang bukan kewenangannya, Konselor sedapat-dapatnya mengalihtangankannya kepada ahli lain, termasuk aplikasi instrumentasi yang tidak menjadi kewenangan Konselor. Proses alih tangan kasus adalah seizing klien dengan tetap diterapkannya rasa kerahasian.
G. OPERASIONALISASI LAYANAN
Layanan Konseling Perorangan merupakan upaya yang unik; keunikannya itu bersumber pada diri klien, masalah yang dialami klien dengan berbagai keterkaitannya, serta diri Konselor sendiri. Meskipun asas kekinian harus selalu menjadi perhatian Konselor, dan hal-hal baru serta unik seringkali muncul dalam proses layanan, Konselor sejak awalnya perlu mempersiapkan diri dan merencanakn layanan Konseling Perorangan.
Kesiapan diri Konselor secara professional merupakan dasaar professional merupakan dasar dari suksesnya layanan Konseling Perorangan.
1. Perencanaan
a. Mengidentifikasi klien
b. Mengatur waktu pertemuan
c. Mempersiapkan tempat dan perangkat teknis penyelenggaraan layanan.
d. Menetapkan fasilitas layanan Konseling Perorangan
e. Menyiapkan kelengkapan administrasi.
2. Pelaksanaan
a. Menerima klien
b. Menyelenggarakan penstrukturan
c. Membahas masalah klien dengan menggunakan teknik-teknik umum
d. Mendorong pengentasan masalah klien dengan menerapkan teknik-teknik khusus
e. Memantapkan komitmen klien dalam pengentasan masalah
f. Melakukan penilaian segera.
3. Evaluasi
Melakukan evaluasi jangka pendek.

4. Analisis Hasil Evaluasi
Menafsirkan hasil Konseling Perorangan (hasil laiseg).
5. Tindak Lanjut
a. Menetapkan jenis arah tindak lanjut
b. Mengkonsumsikan rencana tindak lanjut kepada pihak terkait
c. Melaksanakan rencana tindak lanjut.
6. Laporan
a. Menyusun laporan layanan Konseling Perorangan
b. Menyampaikan laporan kepada pihak terkait (dengan menerapkan asas kesaksian)
c. Mendokumentasikan laporan.

H. Pengertian Manopause.
Menopause adalah proses fisiologis normal yang akan dialami setiap wanita. Dalam masa ini terjadi perubahan pada organ tubuh dan kejiwaan (psikis). Secara fisik sistem organ (alat) berangsur-angsur mengalami kemunduran (degradasi) secara struktural dan fungsional. Hal ini membawa perubahan anatomis, fisiologis dan biokimiawi pada organ. Sedangkan secara psikologis, perubahan pada wanita menopause terjadi karena produksi hormon estrogen di indung telur tiba-tiba berhenti. Biasanya peristiwa ini ditandai dengan terjadinya rasa panas dalam tubuh (hot flushes), perasaan mudah cemas dan mudah berkeringat. Secara medis, pengertian menopause menunjuk pada suatu keadaan berhentinya menstruasi. Sebelum seorang wanita memasuki masa menopause, ia mengalami perubahan-perubahan fisik pada tubuhnya, yang ditandai dengan menurunnya produksi hormon, menstruasi tidak teratur, dan keadaan fertilitas digantikan dengan infertilitas.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field riseach) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan deskriptif digunakan dalam rangka mendeskripisikan dan menginterpretasikan apa yang ada, pendapat yang sedang berkembang , proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau kecenderungan yang sedang berkembang . Studi deskriptif terutama berkenaan dengan yang sedang berkembang atau masa kini, meskipun tidak jarang memperhitungkan peristiwa masa lampau dan pengaruhnya terhadap kondisi masa kini. Penelitian ini mendeskripsikan berbagai hal yang berhubungan dengan pelaksanaan konseling indivual dalam mengatasi permasalahan Manopuase
Pendekatan deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, dan sifat populasi tertentu atau mencoba menggambarkan fenomena secara detail. Menurut Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa: penelitian deskriptif merupakan suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat dilaksanakan penelitian.
B. Subyek Penelitian
1. Jenis data
a. Data Primer
Data Primer adalah data tentang pelaksanaan konseling Indivual bagi ibu-ibu yang manopuase di Desa Perbo kecamatan Curup Utara. Adapun yang menjadi sumber data primer dalam penelitian adalah: Ibu-ibu yang sudah manopuase di Desa Perbo Kecamatan Curup Utara.
b. Data Skunder
Data Skunder yaitu data yang bersifat penunjang sedangkan yang menjadi sumber data skunder dalam penelitian ini adalah semua pihak yang dianggap penting dalam penelitian ini yang meliputi petugas kelurahan serta dokumentasi yang ada di kelurahan dan buku-buku yang berhubungan dengan penelitian.
C. Instrumen Penelitian
Teknik pengumpulan data dalam penelitian lazimnya menggunakan observasi dan wawancara, akan tetapi juga tidak mengabaikan kemungkinan menggunakan sumber-sumber non manusia (non-human resources of information) seperti dokumen yang digunakan di Kelurahan.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode sebagai berikut:
1. Observasi
Dalam penelitian ini digunakan observasi partisipan yang secara terang-terangan. Meskipun demikian peneliti tetap merupakan instrumen utama dalam menghimpun data dan mencari data yang diteliti. Peneliti berusaha melibatkan diri did loksi peneliti dengan mengamati langsung terhadap obyek yang diteliti.
Dalam melakukan pengamatan, peneliti juga melakukan wawancara dengan orang-orang yang dianggap mampu memberikan informasi yang berkaitan dengan fokus akan permasalahan penelitian. Orang yang dianggap dapat memenuhi kriteria tersebut adalah ibu- ibu yang ada di desa Perbo.
2. Wawancara
Dalam penelitian ini wawancara dilakukan dengan maksud melengkapi dan memperdalam hasil penelitian. Dengan demikian rekaman data yang disusun oleh peneliti dalam bentuk catatan lapangan dapat dilengkapi melalui wawancara. Hal ini dilakukan dalam rangka mengetahui secara mendalam dan mengkaji apa yang menjadi pokok bahasan dalam rumusan masalah dan mencari kemungkinan apa yang belum dirumuskan.
Bentuk wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur, artinya peneliti mewawancarai informan berikutnya yang ditentukan berdasarkan informasi pertama. Data dikumpulkan melalui wawancara dimaksudkan untuk mengetahui berkenaan dengan pelaksanaan konseling Indivual bagi ibu- ibu yang manopuase di Desa Perbo Kecamatan Curup Utara dalam mengatasi masalah.
3. Dokumentasi
Dalam data penelitian ini, dokumentasi digunakan sebagai sumber informasi dapat berupa dokumen dan memberikan banyak keuntungan kepada peneliti. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh berbagai pakar bahwa menggunakan dokumen sebagai sumber informasi memberikan keuntungan sebagai berikut: : 1) telah tersedia dan mudah memperolehnya, 2) bersifat stabil dan akurat sebagai cermin dan keadaan yang sebenarnya, 3) dapat dianalisis secara berulang-ulang dengan tidak mengalami perubahan.
Dokumen sebagai alat pengumpul data juga memberikan keuntungan lain selain yang telah disebutkan diatas yakni: merupakan sumber yang stabil, kaya dan mendorong, berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian dan berguna untuk penelitian kualitatif yang sifatnya alamiah.
D. Teknik Analisa Data
Data yang diperoleh melalui instrumenn observasi, wawancara dan dokumentasi dilakukan analisis dengan menggunakan deskriptif naratif, artinya hasil dari wawancara, observasi dan dokumentasi dijelaskan dengan menggunakan kata-kata sehingga dapat dimengerti dan dipahami oleh semua orang, terutama yang berkenaan dengan pelaksanaan konseling Individual bagi Ibu- ibu yang manopuase di Desa Perbo dalam mengatasi masalahnya .
Data yang terkumpul melalui wawancara dianalisis dengan menggunakan teknik analisis naratif dengan cara;
a. Melakukan kegiatan meregistrasi satuan-satuan informasi dari catatan lapangan
b. Mengkategorisasikan data yang telah dperoleh sesuai dengan pertanyaan penelitian
c. Membuat laporan dalam bentuk naratif, yaitu uraian yang lengkap tentang temuan di lapangan
d. Melakukan penelaahan terhadap makna, interpretasi dan keterkaitan temuan dengan unsur atau aspek yang lain serta teori yang ada.
e. Melakukan pendeskripsian untuk selanjutnya ditarik kesimpulan.

BAB IV
LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Wilayah Penelitian
Desa perbo terbagi kepada dua dusun yaitu dusun I dan dusun II. Adapun Jumlah penduduk yang ada di desa Perbo yang tercatat di kantor Kelurahan Perbo Tahun 2011 adalah 744 dengan pembagian sebagai berikut: 373 adalah laki-laki, 371 adalah perempuan. Sementara itu menurut catatan yang ada di Kantor Kelurahan Perbo jumlah kepala keluarga di Desa Perbo adalah 220 orang kepala keluarga. Adapun rincian penduduk untuk setiap dusun adalah sebagai berikut:
Dari jumlah penduduk yang ada di Desa Perbo tersebut di atas yang sudah memasuki usia lanjut adalah sebagai berikut: untuk dusun I yang memasuki usia lanjut adalah 18 orang, 8 orang laki-laki dan 10 orang perempuan. Sedangkan yang memasuki usia lanjut di Dusun II adalah sebanyak 23 orang, dengan rincian sebagai berikut: 7 orang perempuan, dan 16 orang laki-laki.

B. Hasil Penelitian
Menopause adalah berhentinya secara fisiologis siklus menstruasi yang berkaitan dengan tingkat lanjut usia perempuan. Seorang wanita yang mengalami menopause alamiah sama sekali tidak dapat mengetahui apakah saat menstruasi tertentu benar-benar merupakan menstruasinya yang terakhir sampai satu tahun berlalu. Menopause kadang-kadang disebut sebagai perubahan kehidupan. Kondisi ini juga ditemukan di beberapa spesies lain yang mengalami siklus seperti itu, seperti misalnya monyet rhesus dan sejumlah cetacean. Ketika menopause sudah mendekat, siklus dapat terjadi dalam waktu-waktu yang tidak menentu dan bukan hal yang aneh jika menstruasi tidak datang selama beberapa bulan. Pada usia empat puluh tahun, beberapa perubahan hormon yang dikaitkan dengan pra-menopause mulai terjadi. Penelitian telah membuktikan, misalnya, bahwa pada usia empat puluh tahun banyak wanita telah mengalami perubahan-perubahan dalam kepadatan tulang dan pada usia empat puluh empat tahun banyak yang menstruasinya menjadi lebih sedikit atau lebih pendek waktunya dibanding biasanya, atau malah lebih banyak dan/atau lebih lama. Sekitar 80% wanita mulai tidak teratur siklus menstruasinya.
Kenyataannya, hanya sekitar 10% wanita berhenti menstruasi sama sekali tanpa disertai ketidakteraturan siklus yang berkepanjangan sebelumnya. Sehubungan dengan permasalahan di atas peneliti merumuskan beberapa permasalahan yang akan di bahas dalam bab ini 1). Bagaimanakah pemahaman para ibu di Desa Perbo terhadap menopause,2). Bagaimana efektifitas pelaksanaan konseling individual terhadap ibu-ibu yang sudah menopause di Desa Perbo.3). Apa saja kendala yang dialami dalam pelaksanaan konseling indivual terhadap ibu-ibu yang mengalami menopause di Desa Perbo. Dari ketiga topik tersebut peneliti akan merincinya sebagai berikut:
1) Bagaimanakah Pemahaman Para Ibu di Desa Perbo Terhadap Menopause.
a. Apa itu Menapouse
Dalam memberikan bantuan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap para ibu yang mengalami menapouse terdapat berbagai pandangan atau pendapat berhubungan dengan permasalahan menapouse tersebut.
Berdasarkan hasil temuan dan setelah melakukan wawancara kepada Ibu WD yang berdomisili di dusun I perbo Kecamatan Curup Utara menjelaskan sebagai berikut:
MD
“Bahwa menapouse adalah berhentinya menstruasi bagi seorang perempuan, biasanya berhentinya menapouse tersebut berhenti ketika sudah memasuki umur 40 tahun. Tetapi bagi saya menghadapai menapouse sesuatu yang biasa-biasa saja karena permasalahan menapouse adalah permasalahan alami artinya akan dialami oleh semua orang perempuan dengan datangnya menapouse maka justru menjadikan kita menjadi dewasa yang sesungguhnya ”.
Peneliti mencoba melakukan wawancara kepada Ibu TR yang berdomisili di dusun I Desa Perbo mengenai pendapat mereka tentang menapouse. Dari wawancara tersebut Ibu TR menjelaskan kepada Peneliti bahwa:
TR
“Menapouse adalah kejadian yang terjadi secara alami yang dialami oleh setiap perempuan, oleh karena itu menurut pandangan saya bahwa sekalipun menapouse adalah kejadian alamiah akan tetapi ada perasaan takut dengan datangnya menapouse tersebut, karena siapa tau dari datangnya menapouse tersebut rasa cinta dari suami justru menjadi berkurang”.
Peneliti juga melakukan wawancara kepada ibu MG mengenai pemahaman ibu MG tentang masalah menapouse. Dari hasil wawancara kepada ibu MG tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
MG
Menapouse adalah berhentinya menstruasi pada wanita usia kisaran 45 tahun keatas yang akan dialami setiap wanita atau ibu-ibu ada juga ibu-ibu yang kurang menyadari akan terjadinya menapouse. Menurut Ibu MG sesungguhnya menapouse itu sesuatu yang biasa saja dan harus kita sikapai secara wajar-wajar saja.
Peneliti juga melakukan wawancara kepada Ibu NN yang berdomisili di dusun II mengenai pemahaman ibu NN akan menapouse itu sendiri apa. Menurut Ibu NN sesungguhnya menapouse itu dijelaskan kepada peneliti:

NN
“Menapouse adalah masa berhentinya siklus menstruasi pada wanita yang berusia 40 tahun keatas dalam menghadapi menapouse para wanita ada yang merasa khawaitr ada yang sangat cemas, bingung ada juga yang menganggap hal itu biasa-biasa.”

Peneliti juga melakukan wawancara kepada ibu SR mengenai pemahaman ibu SR tentang masalah menapouse. Dari hasil wawancara kepada ibu SR tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
SR.
“Menurut ibu SR menapouse adalah merupakan salah satu fase yang harus dilalui oleh seorang wanita yang sudah memasuki usia 45 tahun ke atas, dengan masuknya usia 45 tahun ke atas tersebut maka sangat dimungkinkan akan terjadinya suatu fase yang disebut dengan fase manpouse.”
Dari penjelasan kelima Ibu-ibu tersebut di atas nampak sekali memandang menapouse sesuatu yang biasa-biasa saja dan harus disikapi secara wajar-wajar saja, Persoalan menopause berkaitan dengan dua aspek sekaligus, fisik dan psikologis. Karenanya, sangat diperlukan studi-studi yang bertujuan mendapatkan pendekatan dalam menangani problema wanita menopause. Sejauh pengamatan penulis, studi yang secara khusus mengamati fenomena menopause dengan pendekatan ilmu psikologi masih jarang dilakukan untuk tidak menyebutnya tidak ada. Termasuk studi yang menggunakan pendekatan konsep bimbingan dan konseling. Dengan demikian diharapkan bisa melihat problematika menopause pada sisi yang lain.
b. Kapan Menapouse itu terjadi Pada Ibu
Menapouse merupakan kejadian alami yang harus dilalui oleh setiap wanita, menapouse merupakan suatu tahap fisiologis dimana seorang wanita tidak lagi mendapatkan siklus menstruasi. Pada saat menapouse terjadi penurunan produksi hormon estrogen sebagai akibat habisnya folikel sel telur dalam ovarium. Penurunan hormon estrogen inilah yang memunculkan berbagai gejala dan tanda menjelang pasca menapouse. Terjadinya menapouse pada seiap wanita mengalami perbedaan di desa perbo, seperti Ibu MD menurutnya menapouse terjadi pada usia 41 tahun, sedangkan menurut Ibu TR Menapouse terjadi pada dirinya pada usia 43 tahun sementara ada juga yang mengalami menapouse pada usia 45 tahun hal ini terjadi pada ibu MG, sedangkan yang terjadi pada ibu NN terjadinya menapouse sangat lambat sekali yaitu kisaran umur 48 tahun, bahkan mungkin lebih, sedangkan bagi ibu SR mengalami menapouse pada usia 42 tahun,
Dari beberapa informasi yang sudah disampaikan kepada penulis diatas dapat diambil sebuah kesimpulan bahawa sesungguhnya menapouse terjadi pada ibu-ibu berkisar pada usia 40 tahu keatas.
c. Apa ciri – ciri menopause
Berbagai macam ciri – ciri menopause yang dialami Ibu di Desa Perbo dalam mengalami menopause dia mengalami kekhawatiran dalam menghadapi menopause, seperti halnya Ibu MD merasa cemas dan susah tidur, sama juga halnya yang dialami oleh Ibu TR Dia juga sebelum mengalami menopause susah tidur, dada berdebar – debar yang diikuti oleh rasa cemas, ada juga ciri yang dialami oleh Ibu MG dia merasa susah tidur juga dan tidak lancarnya menstruasi kadang banyak dan terkadang pula sedikit atau sama sekali tidak datang. Jauh lebih berbeda dengan Ibu NN saat mengalami menopause Dia sangat cepatkarena ada sakityang dideritanya seperti kanker rahim. Tapi ciri yang dialami Ibu SR saat Dia menopause Dia mengalami susah tidur, dada berdebar – debar, rasa takut dan cemas. Dalam penelitian yang ditemukan oleh peneliti ternyata bermacam – macam ciri menopause yang dialami Ibu – ibu di Desa Perbo.
2. Bagaimana Pemahaman Ibu – ibu di Desa Perbo Terhadap Menopause.
a). Perubahan apa saja yang Ibu alami setelah mengalami menopause
Kehidupan pada dasarnya merupakan suatu proses perubahan yang kontinyu atau serangkaian perkembangan yang kontinyu dari lahir sampai mati. Jadi perkembangan yang akan dialami oleh setiap Individu. Setiap perkembangan adanya suatu proses menuju pada suatu kemasakan dn kematangan yang meliputi aspek jasmaniah, rohaniah dan sosialnya. Bila seorang individu telah mencapai periode kemasakan, baik aspek fisik, psikis maupun sosial, yang umumnya dapat dicapai pada usia remaja – dewasa, maka periode berikutnya adalah periode penurunan, seperti yang dialami Ibu MD di Desa Perbo setelah menopause Dia mengalami perubahan pada fisik adalah tentunya terjadi pada anggota badan secara keseluruhan, terkadang keluar keringat dingin terkadang meriang, mungkin ini semua juga akibat tekanan secara psikologis menghadapi kondsisi seperti ini. Sementara itu bagi Ibu TR perubahan yang dialami setelah mengalami menopause adalah tekadang sering gemetar dan nyeri apabila berhubungan suami istri, sedangkan menurut Ibu MG perubahan yang terjadi setelah mengalami menopause adalah semakin matang dan dewasa dalam menghadapi menopause tersebut itukan peristiwa yang biasa – biasa saja yang tidak perlu dicemaskan yang berlebihan. Ibu NN menjelaskan perubahan yang dia alami setelah menopause adalah awalnya adanya kecemasan yang sangat luar biasa, karena saya berfikir kalau sudah menopause akan berakhirlah suasana selama ini bersama suami, tetapi seiring berjalannya waktu saya menyadari bahwa menopause sesungguhnya sesuatu yang terjadi secara alami yang akan terjadi kepada semua perempuan. Sementara itu Ibu SR menjelaskan kepada peneliti bahwa perubahan yang dia alami setelah mengalami menopause adalah yang jelas agak nyeri kalau melakukan hubungan suami istri, tetapi bagi saya menopause adalah suatu yang biasa – biasa saja yang harus kita sikapi secara dewasa juga, karena menopause merupakan bukti bahwa kita sudah tidak produktif lagi, tidak akan bisa melahirkan lagi.
b. Bagaimanakah perubahan yang Ibu alami saat menopause.

Perubahan ini menimbulkan strees bagi Ibu menopause, jika ibu tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan maka wanita yang mengalami menopause akan mengalami gangguan fisik, seksual, sosial dan gangguan psikologis.
c. Apa sajakah perubahan – perubahan itu
Banyak perubahan yang terjadi pada ibu – ibu menopause seperti halnya perubahan itu adalah :
• Perubahan pada kesehatan
Usia madya ditandai dengan menurunnya kesegaran fisik secara umum dan memburuknya kesehatan. Di mulai pada usia pertengahan empat puluh tahunan, terdapat peningkatan ketidakmampuan dan ketidakabsahan yang berlangsung dengan cepat, dan seterusnya.
• Perubahan seksual
Sejauh ini, penyesuaian fisik yang paling sulit dilakukan oleh wanita menopause terdapat pada perubahan – perubahan pada kemampuan seksual mereka. Wanita memasuki masa menopause atau perubahan hidup dimana masa mentruasi berhenti dan mereka kehilangan memelihara anak.
• Perubahan kepribadian
Banyak wanita mengalami perubahan kepribadian selama masa menopause. Mereka mengalami diri tertekan, cepat marah, serta bersifat mengkritik diri dan mempunyai rasa penyesuaian yang luas. Dengan memulihnya keseimbangan endokrin pada akhir menopause, perubahan – perunahan ini biasanya akan menghilang.
• Perubahan pada penampilan wanita menurun
Bila hormon – hormon ovarium berkurang sekundar kewanitaan menjadi kurang kelihatan bulu di wajah bertambah kasar, suara menjadi lebih mendalam, lekuk tubuh menjadi rata, payudara tidak kencang, dan bulu pada kemaluan dan aksial menjadi lebih tipis.

3. Hasil Konseling Individual Pada Ibu Yang Mengalami Menopause Di Desa Perbo.

Untuk mendapatkan gambaran yang benar mengenai efektifitas pelaksanaan Konseling Individual terhadap ibu-ibu yang sudah menopause di Desa Perbo, peneliti melakukan wawancara dengan Ibu MD dan Dia menjelaskan sebagai berikut:
”Menurut Ibu MD pelaksanaan konseling Individual yang membantu dalam mengentaskan permasalahan yang berhubungan dengan menopause sangat efektif, dari awal saya tidak memahami mengenai permasalahan yang berhubungan dengan menopause tapi setelah melaksanakan konseling individual saya semakin siap dalam menghadapi permasalahan yang berhubungan dengan menopause.”
Penilaian Hasil Layanan Konseling Individual Pengentasan Masalah
1. Masalah Anda apakah yang telah mendapat layanan bimbingan dan konseling ? Tuliskan dengan singkat : Masalah Menopause
2. Kapan, dengan cara apa dan oleh siapa layanan itu diberikan :
Tanggal layanan : 02 Mei 2011
Jenis layanan : Konseling Individual
3. Perolehan apakah yang anda dapatkan dari layanan tersebut ?
Jawablah dengan singkat pertanyaan – petanyaan berikut :
a. Hal – hal atau pemahaman baru apakah yang anda peroleh dari layanan yang telah anda jalani ? saya mendapatkan ketenangan dalam menghadapi menopause.
b. Setelah mendapatkan layanan, bagaimana perasaan Anda ? saya merasa lega dan tidak cemas
c. Setelah mendapatkan layanan, hal – hal apakah yang akan anda laksanakan untuk mengentaskan / mengatasi masalah Anda itu ? memahami dan menghadapi nya dengan baik
4. Berdasarkan gambaran tersebut no.3 diatas berapa persen masalah yang anda alami itu telah terentaskan/teratasi sampai sekarang?
a. 95% – 10% e. 10% – 29%
b. 75% – 94% , f. Kurang dari 10%
c. 50% – 74% g. Semakin berat
d. 30% – 49% h. ………………….
5.
Peneliti juga melakukan wawancara kepada Ibu TR mengenai efektifitas pelaksanaan konseling individu bagi Ibu Tr yang mengalami menopause, menurut Ibu TR adalah :
”Ibu TR menjelaskan kepada peneliti bahwa sesungguhnya melalui konseling Individual yang dilakukan peneliti sudah sangat efektif dalam memberi berbagai masukan dan solusi yang ditawarkan dalam menghadapi menopause, misalnya memberikan pengertian bahwa sesungguhnya menopause adalah peristiwa yang terjadi secara alamiah akan terjadi kepada semua orang perempuan yang normal, dan kita harus sikapi secara dewasa.”

Penilaian Hasil Layanan Konseling Individual Pengentasan Masalah
1. Masalah Anda apakah yang telah mendapat layanan bimbingan dan konseling ? Tuliskan dengan singkat : Masalah menopause
2. Kapan, dengan cara apa dan oleh siapa layanan itu diberikan :
Tanggal layanan : 12 Mei 2011
Jenis layanan : Konseling Individual
3. Perolehan apakah yang anda dapatkan dari layanan tersebut ?
Jawablah dengan singkat pertanyaan – petanyaan berikut :
a. Hal – hal atau pemahaman baru apakah yang anda peroleh dari layanan yang telah anda jalani ? saya lebih dewasa menghadapi masalah menopause
b. Setelah mendapatkan layanan, bagaimana perasaan Anda ? saya merasa ada keberanian dan tidak cemas lagi
c. Setelah mendapatkan layanan, hal – hal apakah yang akan anda laksanakan untuk mengentaskan / mengatasi masalah Anda itu ? saya menyikapinya hal yang wajar
4. Berdasarkan gambaran tersebut no.3 diatas berapa persen masalah yang anda alami itu telah terentaskan/teratasi sampai sekarang?
a. 95% – 10% e. 10% – 29%
b. 75% – 94% f. Kurang dari 10%
c. 50% – 74%, g. Semakin berat
d. 30% – 49% h. ………………….
5.
Peneliti juga melakukan wawancara kepada Ibu MG mengenai efektifitas pelaksanaan konseling individual bagi Ibu yang mengalami menopause menurut Ibu MG adalah :
”Ibu MG menjelaskan kepada peneliti bahwa sesungguhnya konseling yang dilakukan kepada kami sangat memberikan manfaat yang luar biasa, yang semula kami tidak mengenal dampak yang ditimbulkan dari menopause akhirnya kami mendapatkan pemahaman baru akan beberapa hal yang berhubungan dengan menopause tersebut.”

Penilaian Hasil Layanan Konseling Individual Pengentasan Masalah
1. Masalah Anda apakah yang telah mendapat layanan bimbingan dan konseling ? Tuliskan dengan singkat : masalah menopause
2. Kapan, dengan cara apa dan oleh siapa layanan itu diberikan :
Tanggal layanan : 20 Mei 2011
Jenis layanan : Konseling Individual
3. Perolehan apakah yang anda dapatkan dari layanan tersebut ?
Jawablah dengan singkat pertanyaan – petanyaan berikut :
a. Hal – hal atau pemahaman baru apakah yang anda peroleh dari layanan yang telah anda jalani ? saya mendapat pemahaman baru dari menopause
b. Setelah mendapatkan layanan, bagaimana perasaan Anda ? sangat senang
c. Setelah mendapatkan layanan, hal – hal apakah yang akan anda laksanakan untuk mengentaskan / mengatasi masalah Anda itu ? memberikan pemahaman yang baik tentang menopause
4. Berdasarkan gambaran tersebut no.3 diatas berapa persen masalah yang anda alami itu telah terentaskan/teratasi sampai sekarang?
a. 95% – 10% e. 10% – 29%
b. 75% – 94% f. Kurang dari 10%
c. 50% – 74%, g. Semakin berat
d. 30% – 49% h. ………………….
5.
Penelitian juga melakukan wawancara kepada Ibu NN mengenai efektifitas pelaksanaan konseling individual bagi ibu-ibu yang mengalami menopause, menurut ibu NN adalah :
”Ibu NN menjelaskan kepada peneliti bahwa sesungguhnya konseling yang dilakukan kepada kami sangat membantu kami dalam memberikan pemahaman akan pengertian dan hal-hal yang berhubungan dengan menopause.”

Penilaian Hasil Layanan Konseling Individual Pengentasan Masalah
1. Masalah Anda apakah yang telah mendapat layanan bimbingan dan
konseling ? Tuliskan dengan singkat : Masalah menopause
2.Kapan, dengan cara apa dan oleh siapa layanan itu diberikan :
Tanggal layanan : 21 Mei 2011
Jenis layanan : Konselin Individual
3. Perolehan apakah yang anda dapatkan dari layanan tersebut ?
Jawablah dengan singkat pertanyaan – petanyaan berikut :
a. Hal – hal atau pemahaman baru apakah yang anda peroleh dari layanan yang telah anda jalani ? Saya dapat mengerti pemahaman menopause
b. Setelah mendapatkan layanan, bagaimana perasaan Anda ? saya merasa senang dan tidak khawatir menghadapi menopause
c. Setelah mendapatkan layanan, hal – hal apakah yang akan anda laksanakan untuk mengentaskan / mengatasi masalah Anda itu ? saya akan menjalaninya dengan kuat
4. Berdasarkan gambaran tersebut no.3 diatas berapa persen masalah yang anda alami itu telah terentaskan/teratasi sampai sekarang?
e. 95% – 10% e. 10% – 29%
f. 75% – 94%, f. Kurang dari 10%
g. 50% – 74% g. Semakin berat
h. 30% – 49% h. ………………….
5.

Penelitian juga melakukan wawancara kepada Ibu SR mengenai efektifitas pelaksanaan konseling individual bagi ibu-ubu yang mengalami menopause menurut ibu SR adalah :
”Ibu SR menjelaskan kepada peneliti bahwa sesungguhnya konseling yang diberikan kepada kami sangat membantu kami dan memberikan pemahaman kepada kami akan menopause tersebut, yang semula kami tidak mengerti akhirnya kami dapat banyak informasi mengenai menopause tersebut.”

Penilaian Hasil Layanan Konseling Individual Pengentasan Masalah

1. Masalah Anda apakah yang telah mendapat layanan bimbingan dan konseling ? Tuliskan dengan singkat : Masalah menopause
2. Kapan, dengan cara apa dan oleh siapa layanan itu diberikan :
Tanggal layanan : 02 Juni 2011
Jenis layanan : Konseling Individual
3. Perolehan apakah yang anda dapatkan dari layanan tersebut ?
Jawablah dengan singkat pertanyaan – petanyaan berikut :
a. Hal – hal atau pemahaman baru apakah yang anda peroleh dari layanan yang telah anda jalani ? saya banyak mendapat informasi yang baik tentang menopause
b. Setelah mendapatkan layanan, bagaimana perasaan Anda ? tidak cemas lagi dalam menghadapi menopause
c. Setelah mendapatkan layanan, hal – hal apakah yang akan anda laksanakan untuk mengentaskan / mengatasi masalah Anda itu ? menghadapi dan menyikapi dengan baik
4. Berdasarkan gambaran tersebut no.3 diatas berapa persen masalah yang anda alami itu telah terentaskan/teratasi sampai sekarang?
a. 95% – 10% e. 10% – 29%
b. 75% – 94%, f. Kurang dari 10%
c. 50% – 74% g. Semakin berat
d. 30% – 49% h. ………………….

5.
Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pemahaman Ibu – ibu yang menopause di Desa Perbo mengenai keefektifan pelaksanaan konseling yang dialami oleh ibu-ibu mengalami menopause sangat baik dan efektif melalui pelaksanaan konseling individual.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Pemahaman Ibu-Ibu Desa perbo terhadap menopouse Masa menopause dianggap sebagai semacam mimpi buruk bagi kaum wanita defresi atau perubahan yang terjadi dan berbagai gangguan psikis lainnya yang menjadikan wanita semakin terpuruk pada masa menopause. Ada juga yang berkembang di masyarakat menyatakan wanita yang mengalami menopause adalah sesuatu yang bersifat alamiah.
2. Efektifitas Pelaksanaan Konseling Individual Terhadap Ibu-Ibu Yang Sudah Menopause Di Desa Perbo Melalui proses pelayanan Konseling Perorangan, klien bersama Konselor melakukan upaya tersinergikan untuk mencapai tujuan layanan. Dari segi klien, keefektifan layanan Konseling Perorangan ditentukan oleh kondisi klien sejak sebelum bertemu Konselor sampai dengan aktifitas klien pasca layanan Konseling Perorangan, secara umum pelaksanaan konseling perorangan sangat efektif dalam membantu memberikan pemahaman kepada Ibu-ibu yang mengalami menopause.
3. Hasil Konseling Individual dalam meningkatkan kepercayaan Ibu-ibu yang mengalami Menapouse. bagi ibu-ibu dalam menghadapi berbagai permasalahan yang berhubungan dengan menapouse setelah melakukan konseling individu terdapat kesan yang positif dari pelaksanaan konseling itu. yang semula bingung dan serba salah dalam menghadapi berbagai permasalahan yang berhubungan dengan menapouse.

B. Saran-Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan diatas dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:
a. Kepada para suami diharapkan dapat memberikan perhatian yang besar terhadap gajala-gejala menopause yang akan dihadapi seorang istri, karena perhatian yang diberikan itu merupakan penghargaan yang tinggi bagi seorang istri. Disamping itu akan menciptakan kepercayaan diri seorang istri.
b. Kepada para para istri diharapkan berusaha terus meningkatkan pemahaman dan selalu bertanya mengenai permasalahan secara psikologis khususnya yang berhubungan dengan menopause.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s